Rabu, 19 Maret 2014

Presiden Soekarno tidak tahu sama sekali peristiwa penculikan 1 Oktober 1965

Kolonel CPM Maulwi Saelan baru saja
menunaikan shalat Shubuh ketika telepon
rumahnya berdering. Pagi itu 1 Oktober 1965
sekitar pukul 05.10, Kombespol Sumirat
mengabarkan kepadanya soal informasi
penembakan di rumah Wakil Perdana Menteri II,
Leimena dan rumah Menhankam/Kasab, Jenderal
A.H. Nasution.
Sumirat meminta Saelan mengecek kebenaran
informasi yang didapatnya dari intel Komdak
Jaya (Polda Metro Jaya) Kombespol. Anwas.
“Baiklah nanti saya cek,” kata Saelan kepada
Sumirat.
Selang 20 menit yakni pukul 05.30 Sumirat
kembali menelpon. Dia mengabarkan
penembakan juga terjadi di rumah Menteri
Panglima Angkatan Udara, Omar Dhani dan
Jendral D I Pandjaitan. Tapi tak lama setelah
telepon ditutup Sumirat kembali mengontak. Dia
mengatakan tidak ada penembakan di rumah
Omar Dhani, namun ada banyak pasukan tidak
dikenal yang berjaga di sekitar Istana Merdeka.
“Baiklah saya akan mengecek lagi dan saya
segera mencari bapak,” ujar Saelan.
Pukul 05.45 Kapten Inf. Suwarno, Komandan
Kompi I Yon IKK Resimen Cakrabirawa datang ke
rumah Saelan mencari Bung Karno.
“Bapak di mana?” kata Suwarno. Mendengar
pertanyaan Suwarno Saelan terkejut. Pasalnya
tadi malam dia sendiri yang mengantar Bung
Karno ke Istana Merdeka usai menghadiri acara
Musyawarah Nasional Teknik (Munastek) di
Gelora Bung Karno.
“Apakah bapak tidak di istana?” Saelan bertanya
balik.
“Tidak ada.”
“Baiklah, kita cari bapak,” pungkas Saelan.
Pengalaman bertahun-tahun mengawal Bung
Karno membuat Saelan mengerti kebiasaan Bung
Karno. Menurutnya bila Bung Karno tidak ada di
istana maka kemungkinan besar Bung Karno
bermalam di rumah Ratna Sari Dewi di Wisma
Yaso atau di rumah Haryati di Grogol. Saelan
memutuskan pergi ke Grogol. Sesampainya di
sana ternyata Bung Karno tidak ada. Cepat-
cepat dia meninggalkan rumah Haryati menuju
Wisma Yaso.
Baru sampai di jalan besar Saelan melihat
kendaraan jip Detasemen Kawal Pribadi (DKP)
Resimen Cakrabirawa yang dilengkapi pesawat
Lorenz (radio transmitter). Dia langsung
mengontak Komandan DKP Cakrabirawa Kompol.
Mangil yang selalu bertugas menjaga Bung
Karno. Dari Mangil Saelan tahu bahwa Bung
Karno sedang mendekati air mancur di Jalan
Budi Kemulian menuju Istana Merdeka. Saelan
langsung mencegah. Dia mengingatkan ada
pasukan tidak dikenal di sekitar istana dan
meminta iring-iringan presiden berbalik arah
menuju Grogol.
“Saya menunggu di sana,” kata Saelan.
Sekitar pukul 07.00, Bung Karno bersama
pengawal tiba di Grogol. Saelan segera
melaporkan informasi yang dia terima dari
Kombespol Sumirat. Mendengar ada penembakan
di rumah para jendral Bung Karno terkejut.
“Wah Ik ben overrompeld. Wat wil je met me
doen? (Apa yang kamu mau aku lakukan?),”
tanya Bung Karno sambil terperangah
“Sementara kita di sini dahulu pak. Kami segera
mencari keterangan dan kontak dengan Panglima
Angkatan dan Kodam Jaya, serta menanyakan
situasinya,” jawab Saelan.
“Tapi kita tidak bisa lama di sini,” sanggah Bung
Karno.
“Memang betul pak. Sebagai alternatif kami akan
mencari tempat lain,” kata Saelan.
Dari hasil diskusi dengan Mangil dan Letnan
Kolonel (tituler) Suparto (sopir Bung Karno),
disepakati Bung Karno akan dibawa ke rumah
kenalan Mangil di Jalan Wijaya, Kebayoran Baru.
Saelan memerintahkan anggota DKP menyiapkan
kedatangan Bung Karno (sterilisasi area) dan
memerintahkan Suparto mengontak Panglima
Kodam Jawa dan Panglima Angkatan Bersenjata
untuk mencari informasi apa yang sesungguhnya
terjadi.
Sekitar pukul 08.30 Suparto datang membawa
laporan. Dia mengatakan telah mengontak
Panglima AURI, Omar Dhani yang sedang berada
di Halim Perdanakusuma. Menurutnya di sana
sudah ada pesawat Jetstar yang siap digunakan
Bung Karno. Kabar Suparto langsung dilaporkan
Saelan kepada Bung Karno.
Bung Karno akhirnya memutuskan pergi ke Halim
Perdanakusuma. Sekitar pukul 09.00 Bung Karno
dan rombongan berangkat menuju Halim
Perdanakusuma dan tiba di lokasi setengah jam
kemudian. Di Markas Komando Operasi (Koops)
Halim Perdanakusuma telah menunggu Omar
Dani dan Leo Watimena. Di ruangan Koops, Omar
Dani melaporkan situasi yang terjadi.
Sekitar pukul 10.00 Wakil Komandan Gerakan 30
September (G30S) Brigadir Jendral Supardjo tiba
di Koops Halim Perdanakusuma. Dia meminta
Bung Karno mendukung aksi penculikan dan
penembakan terhadap sejumlah jendral yang
dilakukan tadi malam. Bung Karno menolak.
Dengan tegas dia meminta Supardjo
menghentikan aksi.
“Ketika Brigjen Supardjo meninggalkan Koops
wajahnya lesu dan tampak kecewa sekali,”
kenang Saelan.
Saelan menjelaskan fakta penting bahwa Bung
Karno tidaklah mengetahui gerakan penculikan
jendral yang dilakukan Letkol Untung Samsoeri.
Hal ini misalnya terlihat dari pernyataan spontan
yang disampaikan Bung Karno ketika mendengar
kabar penculikan jendral dari Saelan.
“Bung Karno terkejut dan spontan mengatakan Ik
ben overrompeld,” kata Saelan. Menurut Saelan
jika Bung Karno telah mengetahui operasi G30S
Untung Cs, maka reaksi yang dikeluarkan Bung
Karno tidak mungkin seperti itu.
Hal berikutnya yang perlu diperhatikan adalah
kedatangan Bung Karno ke Halim Perdana
Kusuma. Dari penjelasan Saelan terungkap
bahwa kedatangan Bung Karno ke Halim tidak
pernah direncanakan. Pilihan itu murni karena
pertimbangan keselamatan lantaran di Halim
terdapat pesawat Jetstar yang bisa membawa
presiden kemana saja apabila terjadi hal-hal tak
diinginkan.
Dengan demikian, spekulasi tentang kerja sama
antara Bung Karno dan pelaku G30S yang
bermarkas di sekitar Halim telah terbantahkan.
Hal ini dipertegas dengan sikap Bung Karno yang
meminta Supardjo selaku wakil komandan
gerakan G30S menghentikan aksinya.
“Yang benar, Presiden Soekarno tidak tahu sama
sekali peristiwa penculikan 1 Oktober 1965
subuh. Justru Presiden RI baru tahu adanya
persitiwa tersebut setelah kami cegat dalam
perjalanan menuju Istana Merdeka dari Slipi dan
saat itu dia terperangah,” kata Saelan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar